Cerita Sang Pande
Auteur : Albert Lutano
Date de publication : 101
Éditeur : Matriks Desain Manusia
Nombre de pages : 196
Résumé du livre
Fermentasi Sang Ratu di Warung Kopi Taksu
Karier gemerlap, 350 ribu pengikut di media sosial, dan tiket retreat spiritual yang selalu ludes terjual ternyata hanya menyisakan rongga kosong di dada Githa Maharani.
Sang "Guru Manifestasi" ini akhirnya menyadari bahwa selama ini ia hanya menjual janji manis tanpa isi, sebuah "vibes" palsu yang justru menjerat dirinya sendiri.
Setelah memutuskan untuk "pulang" dan melepaskan seluruh kemewahan hidupnya di Jakarta, Githa kembali ke Ubud sebagai murid paling dasar. Ia kini menerima "gaji" yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: sepiring nasi campur, ilmu kehidupan yang murni, dan sebuah kamar sempit ukuran 3×3 meter di belakang workshop.
Pagi-pagi buta, ia harus berjibaku dengan janur dan bunga, belajar kerendahan hati lewat ritual mejejahitan yang terus-menerus gagal. Siangnya, ia berguru pada Pak Made, seorang pengrajin perak yang mengajarkan bahwa sebuah perhiasan hanya akan "hidup" jika tangan, hati, dan doa menyatu di atas palu.
Namun, ujian sesungguhnya datang saat Githa memutuskan untuk jujur kepada dunia. Sebuah artikel pengakuan dosanya meledakkan internet, reputasinya hancur dalam semalam, dan hujatan mengalir deras seperti lumpur hitam. Bli Wayan menyebutnya sebagai fase "fermentasi", lumpur yang harus dibiarkan lewat agar air kembali jernih.
Bersama Dian, Githa kini merancang sebuah langkah nyata: Workshop Tri Hita Karana. Ia mengajak Jessica, mantan asistennya, untuk meninggalkan dunia citra dan bergabung sebagai produser yang dibayar dengan akal sehat, sistem, dan nasi hangat.